021 - 2567 8989
  sekretariat@indohcf.com
INDOHCF | News

NEWS  


Press Conference IndoHCF Innovation Award I-2017  

Keterangan foto : (ki-ka) Dr. A. Cristina Sandjaja; M.Kes, Rufi I. Susanto; Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS; Prof. Dr. Ir. Suhono H. Supangkat; Dono Widiatmoko, SKM, M.Sc.

Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) mengadakan press conference IndoHCF Innovation Award I-2017 pada tanggal 23 February 2017 di Hotel Gran Melia Jakarta. Press conference ini menghadirkan perwakilan dewan juri antara lain:

  • Asosiasi Produsen Alat Kesehatan (ASPAKI) : Dr. A. Cristina Sandjaja, M.Kes (Sekretaris Jenderal)
  • Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC) : Prof. Dr. Ir. Suhono H. Supangkat (Ketua)
  • Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IKATEMI) : Dono Widiatmoko, SKM, M.Sc (Ketua Ketua Hubungan Internasional dan Globalisasi Kesmas )

Turut hadir juga dalam acara press conference ini Bapak Rufi. I. Susanto selaku Executive Vice President and Senior Managing Director PT IDS Medical Systems Indonesia. “IndoHCF Innovation Award merupakan dukungan dan sumbangsih IndoHCF terhadap peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, dengan misi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia,” ujar ketua umum IndoHCF Dr. dr. Supriyantoro, SpP, MARS

Supriyantoro menjelaskan, kesehatan merupakan aspek penting dalam pembangunan bangsa. Seiring dengan berjalannya waktu muncul program-program dan inovasi-inovasi di bidang kesehatan yang membantu peningkatan kesehatan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Berpegang pada misi untuk mendukung perubahan positif menuju peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, IndoHCF akan mengadakan Seminar dan Workshop Nasional dalam hal penanggulangan kegawatdaruratan dan perkembangan teknologi informasi di bidang Kesehatan serta program penghargaan kepada insan-insan yang berprestasi dalam menjalankan program-program peningkatan pelayanan kesehatan khususnya bidang kegawatdaruratan, kesehatan ibu dan anak, serta inovasi di bidang alat kesehatan, teknologi informasi dan robotik kesehatan dan kreasi seni promosi kesehatan,” kata Supriyantoro.

Seminar nasional dan workshop dalam hal penanggulangan kegawatdaruratan dilakukan berdasarkan masih tingginya angka kematian akibat penanganan situasi gawat darurat yang belum optimal, baik dari sisi sistem penanganan maupun keterampilan pertolongan terutama bagi para penolong pertama non medis. Seminar dan Workshop terkait e-Health diadakan untuk menggalakan perkembangan industri teknologi informasi di bidang informasi yang dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dilanda berbagai bencana. Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi datang silih berganti sepanjang tahun. Selain itu, cobaan lain juga disumbang oleh kecelakaan lalu lintas, baik di darat, laut, maupun udara. Mengutip data rekapitulasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, meningkat 35 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, lembaga kesehatan dunia di bawah naungan PBB (WHO) dalam publikasinya tengah tahun 2016 lalu menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga di Asia di bawah Tiongkok dan India dengan total 38.279 total kematian akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2015.

Tak hanya persoalan bencana dan kecelakaan yang akhirnya menjadi perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Tingkat kematian Ibu dan Anak juga menjadi catatan yang terus ditemukan setiap tahunnya. Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), saat ini angka kematian ibu melahirkan meningkat dibanding epriode tahun 2.000, yakni 359 orang per 100 ribu kelahiran selamat. Dulunya angka kematian ibu melahirkan hanya 228 orang per 100 ribu kelahiran selamat. Artinya di Indonesia sekarang ini setiap 1,5 jam ada ibu yang meninggal kerena melahirkan.

Berkaca dari tiga persoalan di atas, tentu saja pemerintah dan para pelaku di industri kesehatan mendapat tantangan yang sangat berat untuk mewujudkan level keselamatan dan penanganan kesehatan yang lebih baik dari pada beragam gangguan kesehatan yang terjadi akibat bencana, kecelakaan, juga persoalan kesehatan ibu dan anak. Tentu saja tantangan tersebut bisa dilewati melalui ada peningkatan upaya dan inovasi untuk menekan angka kematian dan cacat fisik.

Sejatinya saat ini perkembangan teknologi di bidang kesehatan sudah tumbuh pesat dan sangat membantu mewujudkan tingkat kesehatan yang lebih baik. Tak heran jika permintaan kebutuhan alat kesehatan (alkes) di Indonesia pun terus meningkat. Asosiasi Pengusaha Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) mencatat permintaan alat kesehatan pada Januari–September tahun 2016 lalu meningkat sampai 20 persen dari permintaan tahun sebelumnya. Nilai pasar alat kesehatan di Indonesia diperkirakan mencapai angka Rp60 triliun di tahun 2016 dengan rata-rata pertumbuhan 10 persen per tahun.

Namun, kenaikan permintaan dan potensi pasar tersebut tidak ditunjang pasokan dari industri dalam negeri. Aspaki mencatat produk impor mendominasi pangsa pasar sebesar 90 persen. Mayoritas berasal dari Tiongkok dan Eropa. Padahal, dengan permintaan alkes sangat tinggi, ketersediaan dan aksesibilitas alkes seharusnya didukung oleh industri dalam negeri. Dengan menggunakan alkes dalam negeri, mutu dan kemanfaatannya ikut berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan jenis dan jumlah alkes dalam negeri dapat memenuhi 44,9 persen dari kebutuhan rumah sakit kelas A, karena saat ini sudah ada 2.623 alat kesehatan dalam negeri yang sudah memenuhi izin edar dan standar internasional yang sudah digunakan di beberapa faskes. Bahkan, keuntungan menggunakan alat kesehatan buatan anak bangsa ini harganya cukup terjangkau dan dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan sebesar 20-30 persen.

Namun di sisi lain, ada inovasi dan temuan  baik di kalangan akademisi, pelajar maupun masyarakat yang belum terinformasikan dan belum dilakukan proses seleksi untuk dapat diproduksi dan berkontribusi dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk itu, pesatnya perkembangan teknologi dengan pelbagai temuan termasuk start-up di bidang kesehatan, perlu ditampung dalam suatu ajang lomba guna dijembatani untuk menjadi produk yang bisa dimanfaatkan dalam mendukung program kesehatan. Upaya promosi kesehatan merupakan salah satu mata rantai penting dalam pembangunan di bidang kesehatan.

Inilah sebabnya Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) menggagas sebuah ajang lomba dan pemberian penghargaan khusus penghormatan kepada individu, institusi, atau kelompok yang telah menerapkan atau melalukan inovasi di bidang kesehatan.

Adapun IndoHCF merupakan bentuk forum yang di prakarsai oleh idsMED Indonesia yang bertujuan mempersatukan para praktisi kesehatan, pendidik kesehatan dan pemangku kebijakan kesehatan di Indonesia untuk dapat berdiskusi, berbagi dan berkontribusi guna peningkatan kualitas kesehatan di Indonesia.

"Semua peserta akan kami link-kan dengan industri-industri kesehatan yang ada, kami akan menjembatani itu. Karena selama ini banyak ide dan inovasi, tapi tak terealisasi karena tidak ada yang memproduksinya dan kami ingin mewadahi itu juga," kata Supriyantoro dalam Press Conference INDOHCF Innovation Award I-2017.

Copyright 2016. Indonesia Healthcare Forum. All rights reserved.
Powered by Zamasco.